Mengikuti Pengajian Syeik Abdul Qadir al-Jilany
20 Dzul hijjah 545 H, di Pesantrennya.






Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Diantara perbendaharaan Arasy adalah menyembunyikan musibah."

Wahai orang yang mengeluh kepada sesama makhluk dengan berbagai cobaan yang menimpanya. Sungguh, mana ada gunanya keluhanmu kepada makhluk yang tak mampu memberikan manfaat dan derita kepadamu. Manakala kalian mengandalkan dan menggantungkan dirimu kepada sesama, lalu anda berbuat musyrik di PintuNya Azza waJalla, yang terjadi justru mereka akan menjauhkan dirimu dari Allah Ta'ala dan terlempar dalam kebencianNya, lalu menghijab dirimu dariNya.

Anda wahai si tolol, anda mengaku sebagai pencari ilmu pengetahuan. Namun diantara ketololan anda adalah anda mencari dunia bukan dari Pemilik dunia, anda mengadu atas persoalan dan cobaan kepada sesama makhluk.

Anjing yang lapar saja, masih belajar menjaga buruannya dan membiarkan dirinya tidak memakan buruannya tersebut. Burung pun juga demikian, ia masih mau menanggalkan watak laparnya untuk memakan buruannya itu. Sedangkan anda lebih utama dibanding anjing dan burung. Manakala tahu dan faham terhadap tuannya, hingga tidak memakan hartamu dan merobek-robek buruanmu, tidak berkhianat kepada amanat Allah Azza wa-Jalla yang dititipkan pada anjing dan burung.

Anda pun tidak bersahabat dengan anjing dan burung itu manakala belum anda ajari bagaimana berburu. Jika sudah anda ajari, anda berikan pemahaman dan anda baru merasa tenang, anda pun bisa bersahabat dengan mereka kemana pun anda pergi, dan anda tidak berpisah dengan mereka dalam berbagai situasi.

Jika mereka merasa tenang, mengerti lulut patuh, mereka pun rela seberapa pun mereka dapat bagian dari anda. Jangan kau bedakan antara biji gandum dan jewawut, dimana anda harus lebih senang memberikan pada yang lain yang membutuhkan dibanding emmakannya demi kebaikan, ketaatan dan kepedulian sosial. Sehingga anda berbuat derma, zuhud di dunia dan lebih cinta pada akhirat.

Kelak, jika anda pun bisa zuhud terhadap akhirat, anda akan menuju Allah Ta'ala, anda mencariNya, dan anda berada di depan PintuNya. Pada saat demikian anda didatangi oleh kesan masa lampau, "Hai makanlah orang yang tak mau makan, minumlah orang yang tak mau minum...."

Orang sakit yang pintar tak mau makan kecuali dari takaran dokter, atau menurut etika sang dokter, meninggakan kerakusan, ada atau tidak hadirnya si dokter. Andai, wahai orang yang rakus terhadap makanan, anda sudah diberi jatah makan oleh selain dirimu (Allah Ta'ala), pakaian, rumah, kendaraan dan isteri. Sudah diciptakan untuk anda semua oleh Dzat yang Maha Tahu. Amboi bodohnya anda, betapa tak berfikirkah anda, tidak beriman dan tidak membenarkan atas janji Allah Azza wa-Jalla?

Karena itu jika anda bekerja dengan orang mulia yang murah hati, maka jagalah adab dan etikamu, jangan mencari upah dan keuntungan, karena hal itu pasti anda raih darinya tanpa anda berbuat tidak etis padanya.

Jika bosmu yang murah hati itu tahu bahwa anda tidak mencari upah dan keuntungan, tidak berbuat su'ul adab, pasti dia malah mengistimewakan anda dibanding yang lain, dan anda malah diposisikan pada tempat yang terhormat.

Allah Azza wa-Jalla tidak bisa disertai oleh hambaNya yang kontrol di hatinya. Allah Ta'ala hanya bisa disertai oleh orang yang memiliki adab, keterangan lahir batin, dan keselarasan abadi. Selama orang berselaras dengan takdirNya, selama itu pula ia bisa bersamaNya.

Orang yang a'rif billah yang 'alim senantiasa tegak berdiri bersamaNya bukan bersama lainNya, berselaras denganNya, bukan dengan lainNya. Ia hidup bersamaNya.

Anak-anak sekalian... Jika anda bicara, maka bicaralah dengan niat yang baik. Jika anda diam, diamlah dengan niat yang baik. Setiap orang yang beramal tidak didahului niat, maka sia-sia amalnya. Sementara anda sekalian ketika bicara dan ketika diam, malah membawa dosa, karena tidak disertai dengan niat yang baik. Ucapan anda, tanpa disertai Sunnah Nabi SAW, ketika terjadi peristiwa dan krisis dalam rizki, lalu anda begitu mudah berubah hanya membela satu suapan nasi, ketika hasratmu tak tercapai, lalu anda mengkufuri nikmat, seakan-akan anda ini para diktator yang bisa seenaknya membuat aturan. Lakukan!, tapi anda tidak melakukan. Kenapa anda berbuat ? Lalu seyogyanya begini dan begitu... Padahal begini dan begitu adalah terlemparnya diri anda, tertolaknya dirimu...

Siapa dirimu wahai anak cucu Adam ? Toh anda adalah makhluk yang teripta dari air yang sangat hina. Karena itu tawadlu'lah pada Tuhanmu dan merasa hinalah dihadapanNya. Jika ketaqwaan sirna darimu, kalian tak berarti apa-apa dihadapan Tuhanmu Yang Maha Murah begitu juga dihadapan hamba-hambaNya yang saleh. Dunia adalah hikmah dan akhirat semuanya adalah qudrat.

Wahai kaum Sufi. Kalian semua adalah budak-budak, kalian dalam jaminan Allah Azza wa-Jalla dan kalian tak pernah disebut-sebut. Jadilah kalian orang pintar, membuka matahatimu. Bila hadir sejumlah jama'ah di rumahmu, janganlah kalian memulai pembicaraan, tetapi ucapanmu sebagai jawaban saja. Jangan bertanya dengan basa-basi yang tak berarti.

Tauhid itu kewajiban, dan mencari yang halal juga wajib. Mencari pengetahuan yang harus diketahui adalah wajib. Ikhlas dalam amal wajib. Meninggalkan permintaan ganti rugi juga wajib. Menyingkirlah dari kalangan kaum munafiq dan fasiq. Bergabunglah dengan orang-orang saleh yang shidiqin.

Jika anda mengalami kebingunan apakah orang itu manafik atau saleh, maka sholatlah di tengah malam dua rekaat, lalu bermunajatlah kepada Allah Ta'ala: "Oh Tuhan tunjukkan pada orang-orang yang saleh dari makhlukMu, tunjukkan kepadaku orang yang menunjukkan kepadaMu, memberikan makan kepadaku dari makanan dariMu, memberi minum pdaku dari minuman dariMu, dan merias celak di mata kedekatanku padaMu dengan cahaya kedekatanMu, dan memberikan khabar yang meyakinkan, bukan mengekor..."

Kaum Sufi makan dari makanan anugerah Allah Azza wa Jalla, meminum minuman dari rasa sukacita denganNya dan menyaksikan pintu taqarrub padaNya, tidak begitu saja menerima kebaikan yang meragukan. Tetapi mereka bermujahadah, bersabar, menghindar dari mereka yang munafiq dan fasiq sampai mereka meraih kebaikan nyata.

Ketika sampai pada Rabbnya, justru Rabbnya yang mendidik dan mengajari hikmah dan pengetahuan. Allah memperlihatkan kerajaan dan kuasaNya, dan mengenalkan bahwa tidak ada di langit dan di bumi kecuali Dia, tak ada yang memberi dan mencegah kecuali Dia, tak ada yang menggerakkan dan mendiamkan kecuali Dia, tak ada yang menakdirkan dan merencanakan kecuali Dia, tak ada yang memberi kemuliaan dan kehinaan kecuali Dia, tak ada yang memberikan kompetensi atau menundukkan kecuali Dia, tak ada yang Memaksa kecuali Dia. Dia memperlihatkan pada mereka lalu mereka melihatNya dengan mata hati dan rahasia batin mereka, hingga tak tersisa sedikit pun di dunia dan kerajaan dunia ini.

Oh Tuhan, tampakkan pada kami sebagaimana Engkau tampakkan pada mereka dengan kemaafan dan ampunan. Berikanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan lindungi kami dari azab neraka.

sumber majalah Cahaya Sufi edisi Mei 2007



...:::...
Read More …

Categories:



Suatu hari, Nasruddin pergi bersama anaknya keluar kota. Dalam perjalanan itu, sang anak naik keledai sementara Nasruddin berjalan kaki sambil memegang tali keledai yang ditunggangi anaknya.Tiba-tiba, seseorang menegur dan berkata, “Sungguh zaman memang sudah edan, bagaimana mungkin seorang anak naik keledai dengan nyaman sementara ayahnya dibiarkan berjalan kaki. Sungguh anak biadab dan tak tahu diri.”

Mendengar itu, sang anak berkata pada Nasruddin, “Ayah, bukankah sudah kukatakan padamu, naikilah keledai ini, biarlah aku yang berjalan kaki.” Nasruddin pun menuruti kemauan anaknya dan menuruti ucapan orang yang menegurnya.

Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan sekelompok orang yang lagi-lagi mencela Nasruddin dan anaknya. “Pantaskah orang tua ini membiarkan anaknya berjalan kaki sementara dia dengan enaknya duduk di atas keledainya. Sungguh orang tua yang tidak punya kasihan pada anaknya.”

Mendengar omongan itu, Nasruddin akhirnya mengajak anaknya naik keledai berdua untuk menyelesaikan. Mereka bertemu lagi dengan kerumunan orang yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan. Salah satu dari mereka berkata, “Hai teman-teman, coba kalian lihat, betapa kejamnya mereka, menunggangi keledai yang lemah itu berdua.”

Karena tidak tahan mendengar ucapan mereka, Nasruddin dan anaknya turun dari keledai. Keledai itu dituntun sementara mereka berdua berjalan kaki. Tak lama kemudian, mereka berpapasan dengan sesama orang yang sedang bepergian. Mereka berkata, “Kalian berdua ini sudah gila, membiarkan keledai begitu saja tanpa dinaiki, sementara kalian berjalan kaki padahal udara siang ini sangat panas.”

Dengan kesal Nasruddin berkata pada anaknya, “Anakku, manusia memang bisanya hanya mencela. Tidak ada yang selamat dari cercaan orang lain.”
“Anakku, manusia memang bisanya hanya mencela.
Tidak ada yang selamat dari cercaan orang lain.”

...:::...
Read More …

Categories:




Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya :

Soalan pertama
Imam Ghazali : Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Murid 4 : Kaum kerabat
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan Kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran:185).


Soalan kedua
Imam Ghazali : Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?
Murid 1 : Negeri Cina
Murid 2 : Bulan
Murid 3 : Matahari
Murid 4 : Bintang-bintang
Iman Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, teta! p kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.


Soalan ketiga
Iman Ghazali : Apa yang paling besar didunia ini ?
Murid 1 : Gunung
Murid 2 : Matahari
Murid 3 : Bumi
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A'raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka .
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mahu memahami dengannya (ayat-ayat Allah), dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mahu melihat dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mahu mendengar dengannya (ajaran dan nasihat); mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai. " (Surah Al-A'raaf, Ayat 179)


Soalan keempat
Imam Ghazali : Apa yang paling berat didunia ?
Murid 1 : Baja
Murid 2 : Besi
Murid 3 : Gajah
Imam Ghazali : Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah(pemimpin) di duni! a ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.'


Soalan kelima
Imam Ghazali : Apa yang paling ringan di dunia ini ?
Murid 1 : Kapas
Murid 2 : Angin
Murid 3 : Debu
Murid 4 : Daun-daun
Imam Ghazali : Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat. Na'uzubillahiminzaa lik.


Soalan keenam
Imam Ghazali : Apa yang paling tajam sekali didunia ini ?
Murid- Murid dengan serentak menjawab : Pedang
Imam Ghazali : Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA . Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.



...:::...
Read More …

Categories:




Ketika kumohon pada Allah kekuatan,
Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat

Ketika kumohon pada Allah kebijaksanaan,
Allah memberiku masalah untuk kupecahkan

Ketika kumohon pada Allah kesejahteraan,
Allah memberiku akal untuk berpikir

Ketika kumohon pada Allah keberanian,
Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi

Ketika kumohon pada Allah sebuah cinta,
Allah memberi orang-orang bermasalah untuk kutolong

Aku tak pernah menerima apa yang kuminta,
Tapi aku menerima segala apa yang kubutuhkan


Doaku terjawab sudah…

...:::...
Read More …

Categories:

Tafsir Ibnu Katsir surrah

AL – ‘ALAQ (segumpal darah)
Surat Makkiyyah; Surat ke 96: 19 ayat



1. Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Rabb-mulah yang Maha Pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.


Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah, dia mengatakan: “Wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah adalah mimpi yang benar melalui tidur. Di mana beliau tidak bermimpi melainkan datang sesuatu seperti falaq Shubuh. Setelah itu, beliau menjadi Iebih senang mengasingkan diri. Kemudian beliau mendatangi gua Hira. Di sana beliau beribadah untuk beberapa malam dengan membawa perbekalan yang cukup. Setelah itu, beliau pulang kembali kepada Khadijah untuk mengambil bekal yang sama sampai akhirnya datang kepada beliau wahyu secara tiba-tiba, yang ketika itu beliau masih berada di gua Hira. Di gua itu beliau didatangi oleh Malaikat Jibril seraya berkata, ‘Bacalah!’ Rasulullah bersabda, “Maka kukatakan: ‘Aku tidak dapat membaca” Lebih lanjut, beliau bersabda “Lalu Jibril merangkulku seraya mendekapku sampai aku merasa kepayahan. Selanjutnya, Jibril melepaskanku dan berkata: ‘Bacalah’ ‘Aku tidak dapat membaca,’ jawabaku. Kemudian Jibril mendekapku untuk kedua kalinya sampai aku benar-benar kepayahan. Selanjutnya, dia melepaskanku lagi seraya berkata, ‘Bacalah.’ Aku tetap menjawab: ‘Aku tidak dapat membaca’. Lalu dia mendekapku untuk ketiga kalinya sampai aku benar-benar kepayahan. Setelah itu, dia melepaskanku lagi seraya berkata: ‘Bacalah dengan Nama Rabb-mu yang menciptakan -sampai ayat- ‘Apa yang tidak diketabuinya’ Dia berkata: “Maka beliau pun pulang dengan sekujur tubuh dalam keadaan menggigil hingga akhirnya masuk menemui Khadijah dan berkata: “Selimuti aku, selimuti aku.” Mereka pun segera menyelimuti beliau sampai akhirnya rasa rakut beliau hilang. Selanjutnya, beliau bersabda, “Apa yang terjadi padaku?” Lalu beliau menceritakan peristiwa yang dialaminya seraya bersabda, “Aku kliawatir sesuatu akan menimpa diriku”. Maka Khadijah pun berkata kepada beliau: “Tidak, bergembiralah. Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sesungguhnya engkau adalah orang yang paling suka menyambung tali silaturahmi, berkata jujur, menanggung beban, menghormati tamu, dan membantu menegakkan pilar-pilar kebenaran.”

Kemudian Khadijah mengajak beliau pergi hingga akhirnya dia membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay, yaitu anak paman Khadijah, saudara laki-laki ayahnya. Dia seorang penganut Nasrani pada masa Jahiliyyah. Dia yang menulis sebuah kitab berbahasa Arab dan juga menulis Injil dengan bahasa Arab dengan kehendak Allah. Dia adalah seorang yang sudah berumur lagi buta. Lalu Khadijah berkata, “Wahai anak paman, dengarkanlah cerita dari anak saudaramu ini.” Kemudian Waraqah berkata, “Wahai anak saudaraku, apa yang telah terjadi padamu?” Kemudian Rasulullah menceritakan apa yang beliau alami kepadanya. Lalu Wraqah berkata, “Ini adalah Namus (Malaikat Jibril) yang diturunkan kepada Musa. Andai saja saat itu aku masih muda. Andai saja nanti aku masih hidup saat engkau diusir oleb kaummu.” Kemudian Rasulullah bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya. Tidak akan ada seorang pun yang datang dengan membawa apa yang engkau bawa melainkan akan disakiti. Dan jika aku masih hidup pada masamu, niscaya aku akan mendukungmu dengan pertolongan yang sangat besar.” Dan tidak lama kemudian, Waraqah meninggal dunia dan wahyu terhenti, sehingga Rasulullah benar-benar bersedih hati. Berdasarkan pada berita yang sampai kepada kami, kesedihan beliau itu berlangsung terus-menerus, agar beliau turun dari puncak gunung. Setiap kali beliau sampai di puncak gunung dengan tujuan menjatuhkan diri, maka Jibril muncul seraya berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau benar-benar Rasul Allah.” Dengan demikian, maka hati beliau pun menjadi tenang dan jiwanya menjadi stabil dan setelah itu beliau kembali pulang. Dan jika tenggang waktu tidak turunnya wahyu itu terlalu lama, maka beliau akan melakukan hal yang sama. Di mana jika beliau sampai di puncak gunung, maka Malaikat jibril tampak olehnya dan mengucapkan hal yang sama kepada beliau.

Hadits di atas diriwayatkan di dalam kitab ash- Shahihain, dari hadits az-Zuhri. Dan kami telah membicarakan sanad, matan, dan pengertian hadits ini di awal syarah kami untuk kitab Shahib aI-Bukhari sacara rinci. Oleh karena itu bagi yang berminat, di buku itulah penjelasannya. Dan segala puji dan sanjungan hanya bagi Allah. Ayat aI-Qur-an yang pertama turun adalah ayat ayat yang mulia lagi penuh berkah ini. Ayat-ayat tersebut merupakan rahmat pertama yang dengannya Allah menyayangi hamha-hamba-Nya sekaligus sebagai nikmat pertama yang diberikan kepada mereka. Di dalam ayat-ayat tersebut juga termuat peringatan mengenai permulaan penciptaan manusia dari segumpal darah. Dan bahwasanya di antara kemurahan Allah Ta’aIa adalah Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Dengan demikian, Dia telah memuliakan dengan ilmu. Dan itulah hal yang menjadikan bapak ummat manusia ini, Adam mempunyai kelebihan atas Malaikat. Terkadang, ilmu berada di dalam akal fikiran dan terkadang juga berada dalam Iisan. Juga terkadang berada dalam tulisan. Secara akal, lisan, dan tulisan mengharuskan perolehan ilmu, dan tidak sebaliknya. Oleb karena itu, Allah Ta’ala berfirman, “Bacalah, dan Rabb-mulah Yang Paling Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” Di Dalam atsar disebutkan: “Ikatlah ilmu itu dengan tulisan.” Selain itu, didalam atsar juga disebutkan: “Barangsiapa mengamalkan apa yang diketahuinya, maka Allah akan mewariskan kepadanya apa yang tidak diketahui sebelumnya.”







6. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
7. karena dia melihat dirinya serba cukup.
8. Sesungguhnya hanya kepada Rabb-mulah kembali(mu).
9. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,
10. Seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat,
11. Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,
12. Atau dia menyuruh bertakwa (keapda Allah).
13. Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling ?
14. Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?
15. Ketahuilah, sunggu jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tari ubun-ubunnya,
16. yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
17. Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),
18. Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah,
19. Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujud dan dekatkanlah (dirimu kepada Rabb).

Allah Ta’ala memberitahukan tentang manusia, bahwa ia merupakan makhluk yang bisa senang, jahat, sombong, dan sewenang-wenang jika dia melihatnya dirinya telah merasa cukup dan memiliki banyak harta. Kemudian Dia memberikan peringatan, mengancam sekaligus menasehatinya, di mana Dia berfirman: “Sesungguhnya hanya kepada Rabb-mulah kembali(mu).” Yakni, hanya kepada Allah tempat kembali. Dan Dia akan menghisabmu atas harta yang engkau miliki, dari mana engkau mengumpulkannya dan untuk apa pula engkau membelanjakannya.

Allah Ta’ala memberitahukan tentang manusia,bahwa ia merupakan makhluk yang bisa senang, jahat, sombong,dan sewenang-wenang jika dia melihatnya dirinya telah merasa cukup dan memiliki banyak harta.

Lebih lanjut, Allah Ta’ala berfirman: “Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seseorang hamba ketika dia mengerjakan shalat.“ Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Jahal, semoga Allah melaknatnya, yang mengancam Nabi jika akan mengerjakan shalat di Baitullah. Kemudian Allah menasihati beliau dengan sesuatu yang lebih baik. Untuk langkah pertama, di mana beliau bentanya, “Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran.” Maksudnya, bagaimana dugaanmu jika orang yang engkau larang itu berada di jalan yang lurus dalam perbuatannya itu atau menyuruh untuk bertakwa melalui ucapannya, sedang dirimu justru melarang dan mengancamnya atas shalat yang dikerjakannya itu. Oleh karena itu, Dia berfirman: “Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?” Maksudnya. tidakkah orang yang melarang itu mengetahui bahwa Allah melihatnya dan mendengar ucapannya serta akan memberi ganjaran atas apa yang telah dia kerjakan itu dengan ganjaran yang benar-benar sempurna.

 Kemudian, dengan nada mengancam dan mengintimidasi, Allah Ta’ala berfirman, “Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti,” yakni jika dia tidak kembali dari keingkaran dan pembangkangannya itu, “Niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,” yakni Kami akan warnai dia dengan warna hitam pada hari Kiamat kelak. Selanjutnya, Dia berfirman, “Yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.”  Yaitu ubun-ubun Abu Jahal yang penuh kebohongan dalam ucapannya dan menyimpang dalam perbuatannya. “Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), “ yakni kaum dan kelompoknya. Maksudnya, hendaklah dia memanggil mereka untuk meminta pertolongan kepada mereka.  “Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah.”  Mereka itu adalah para Malaikat adzab, sehingga dia dapat mengetahui, apakah pasukan kami yang menang ataukah pasukannya? Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Abu Jahal pernah berkata, ‘Jika aku melihat Muhammad mengerjakan shalat di Ka’bah, niscaya akan aku injak lehernya.’ Kemudian Nabi mendengar berita tersebut dan berkata, ‘Jika dia berani melakukan hal tersebut, pasti Malaikat akan menghukumnya.’ Demikianlah yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa-i.

 Imam Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan Ibnu Jarir meriwayatkan, dan ini adalah lafazhnya dari Ibnu ‘Abbas, di mana dia berkata “Rasulullah pemah mengerjakan shalat di maqam, lalu Abu Jahal bin Hisyam melewatinya seraya berkata, ‘Hai Muhammad, bukankah aku telah melarangmu mengerjakan ini?’ Dia mengancam beliau. Maka Rasulullah bersikap kasar terhadapnya seraya menghardiknya, lalu dia berkata, ‘Hai Muhammad, dengan apa engkau mengancamku? Demi Allah, sesungguhnya aku memiliki kelompok yang lebih banyak di lembah ini.’ Lalu Allah menurunkan ayat: “Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya). Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah.”  Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Seandainya dia memanggil kelompoknya, pasti Malaikat adzab akan menimpakan adzab kepadanya saat itu juga” At-Tirmidzi mengatakan:  “Hadits ini hasan shahih.”

Dan firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya.” Maksudnya, hai Muhammad, janganlah kamu mentaati larangannya itu, yaitu larangan untuk terus beribadah dan memperbanyaknya. Shalatlah sekehendak hatimu dan jangan engkau mempedulikannya, karena Allah akan selalu menjaga dan menolongmu, dan Dia senantiasa memeliharamu dari orang-orang. “Dan sujud dan dekatkanlah.” Sebagaimana yang telah disebutkan hadits shaih di dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah pernah bersabda:

“Saat paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah saat dia melakukan sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa.”

Rasulullah saw. juga bersujud saat membaca surat, idzas sammaa-ung syaqqat dan surat iqra’ bismirabbikalladzii khalaq.   ------

Read More …

Categories: